
Bantenologi – Rabu Pugasan adalah salah satu tradisi keagamaan dan budaya yang hidup di tengah masyarakat Banten hingga hari ini. Istilah “Rabu Pugasan” berasal dari bahasa Jawa Serang (Jaseng) yang berarti Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Dalam tradisi Islam Nusantara, khususnya di Banten, dipercaya sebagai momen yang memiliki nilai spiritual tinggi karena diyakini sebagai hari turunnya berbagai bala atau musibah, sehingga masyarakat melaksanakan ritual keagamaan untuk memohon perlindungan kepada Allah (Dhofier, 2017).
Memori kolektif masyarakat Banten menyebutkan bahwa tradisi ini diyakini sudah berlangsung sejak era Kesultanan Banten. Para ulama pada masa itu mengajarkan agar Rabu terakhir di bulan Safar diisi dengan memperbanyak doa dan sedekah, sebagai ikhtiar menolak bala.
Catatan lisan dan sebagian manuskrip keagamaan di Banten memuat doa-doa khusus yang dibaca pada Rabu Wekasan, sebagian ditulis dalam aksara Arab Pegon. Salah satu salinan manuskrip yang banyak beredar di Banten adalah Mujarobat, kitab ini berupa kompendium amalan, wirid, doa, rukyah, hingga penjagaan spiritual (azimat) berbasis ayat Al-Qur’an dan hadis, yang diyakini memiliki manfaat spiritual dan fisik dalam kehidupan sehari-hari.
Naskah ini diduga kuat berasal dari kitab Mujarobat karya Imam Dairobi al Kabir, seorang ulama besar dari Mesir yang hidup sekitar abad ke-18 (Ahmad Dairobi al-Kabir, 2019). Karena penulisnya adalah ulama besar, kitabnya dipandang memiliki kredibilitas keilmuan dan spiritual yang tinggi, banyak ulama di Hijaz menganggap kitab ini relevan karena memberikan solusi spiritual yang langsung bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Martin van Bruinessen menyebut bahwa ulama Banten yang mendapatkan jaringan keilmuan dari Timur Tengah, sepulangnya dari Hijaz memperkenalkan tradisi wirid, doa dan sedekah (Martin van Bruinessen, 2012).
Sehingga tidak dipungkiri jika ulama turut mengenalkan tentang Rabu terakhir bulan Safar dan amalan tertentu untuk menolak bala di Banten. “Nah, karena dihari Rabu terakhir ini diisi dengan ibadah dan kebaikan, maka tradisi ini kemudian dikenal sebagai Rabu Wekasan “Kebaikan” dan diwariskan turun-temurun hingga sekarang” ujar Ustaz Rofiun, tokoh agama kampung Kesaud yang telah memimpin doa Rabu Wekasan sejak puluhan tahun lalu.
Hampir setiap masjid di pelosok Banten, suasana penuh khidmat terjadi dipagi hari. Setelah berkumpul, jamaah berdiri bersaf melaksaknakan sholat tolak bala dengan 4 rokaat dengan 2 salam. Rokaat pertama membaca surat al-Kautsar 17 kali, rokaat kedua membaca al-Ikhlas 5 kali dan surat Mu’awwidzatain 1 kali kemudian setelah salam membaca do’a dan semuanya dilakukan 2 kali (Syaikh Khatib, 2009).
Setelah selesai, masing-masing dari mereka membaca wirid dan doa-doa keselamatan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di sela bacaan, terdengar gumaman pelan, seolah setiap kata adalah titipan harapan kepada Tuhan agar keluarga dan kampung dijauhkan dari bala.
Selanjutnya riungan dan doa bersama, ibu-ibu membawa makanan dari rumah disusun dengan besek, berisi ayam bekakak, ketan, beberapa kue tradisional, hingga buah-buahan, semua dibagikan tanpa melihat siapa membawa apa. Hingga kini, di berbagai daerah di Banten seperti Serang, Cilegon, sebagian wilayah di Pandeglang dan Lebak, Rabu Wekasan masih dilaksanakan dengan beragam bentuk tradisi.
Di Karundang Serang, terdapat masyarakat yang melakukan mandi kembang khusus dihari Rabu Wekasan, berbagai usia berkumpul didepan tong besar berwarna biru berisi air yang sudah diberi rajah (do’a) dan kembang tujuh rupa (Tribun Banten, 2022).
Dalam perspektif antropologi budaya, tradisi Rabu Wekasan adalah contoh nyata akulturasi antara ajaran Islam dengan tradisi lokal yang menghasilkan praktik keagamaan yang khas Banten. Tradisi ini mengingatkan kita pada pentingnya kebersamaan, kepedulian sosial dan kesadaran spiritual di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis.
Bagi generasi muda, tradisi ini akan menjadi jembatan dengan masa lalu dan sebagai momentum belajar sejarah lokal, yang menguatkan ruang identitas budaya Banten. Meski terdapat perbedaan pandangan tentang makna dan cara pelaksanaannya, akan tetapi esensinya tetap sama yakni mengingatkan manusia akan keterbatasannya dan pentingnya memohon perlindungan Tuhan.
Dengan demikian, Rabu Wekasan di Banten bukan hanya sekadar ritual penolak bala, melainkan cermin perjalanan sejarah, identitas budaya dan pengingat nilai-nilai spiritual yang relevan dari masa lalu hingga masa kini.
(Penulis: Rosadi)
Referensi:
- Ahmad Dairobi al-Kabir, Kitab Mujarabat: Referensi Terlengkap Ilmu Pengobatan & Penyembuhan Islam, Jakrta, Turos Pustaka, 2019.
- Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning dan tarekat, Cetakan I, Yogyakarta, Gading Publishing, 2012.
- Syaikh Khatib, Kanjunnajaah Wassurur Fil Adyati Al Ma’tsurah Allati Tasyrah As Shudur, Cetakan I, Beirut Lebanon, 2006.
- Zamakhsymari Dhofier, The Pesantren Tradition: A Study Of The Role Of The Kyai In The Mantenance Of The Traditional Ideology Of Islam In Java, Thesis Submitted For The Degree Of Doctor Of Phylosophy In The Australian National University, 1980.
- https://shafee.id/kitab-mujarobat?utm_source=chatgpt.com
- https://banten.tribunnews.com/2022/09/21/mengenal-rebo-wekasan-rabu-terakhir-di-bulan-safar-tradisi-dan-asal-usul-dalam-masyarakat-banten
